Hubungan Musik dan Alam dalam Identitas Visual Forestra oleh POT Branding House
Alunan orkestra di tengah rimbun dan sejuknya hutan merupakan pengalaman yang ditawarkan oleh konser musik Forestra (Forest Orchestra) yang diadakan di Orchid Forest Cikole, Lembang. Dari alam kembali ke alam—penonton yang hadir dapat merasakan interaksi antar ragam alat musik yang terbuat dari alam dengan elemen-elemen organik yang melahirkannya, tentunya lewat keahlian manusia. Keterhubungan antar musik, alam, dan indra-indra manusia dalam konser Forestra diterjemahkan ke dalam bentuk identitas visual oleh POT Branding House, brand design consultancy berbasis di Bandung. Kepada Grafis Masa Kini, Bayu Rengga, Creative Director POT Branding House, berbagi soal proses kreatif di balik rancangan identitas visual Forestra 2024.
Pertemuan pertama POT Branding House dengan Forestra adalah dua tahun sebelum keterlibatan mereka dalam acara. Pada Forestra pertama tahun 2021, tim POT hadir sebagai penonton. “Kebetulan yang produce event ini rekan baik kami; Suasana Scenery, yang sudah banyak merancang event yang kami juga sering hadiri,” ungkap Bayu. Mendengarkan komposisi orkestra yang apik di tengah alam membuat tim POT terpukau—menurut pengakuan Bayu bahkan sampai menangis haru—dengan konsep Forestra. Diskusi panjang mengenai bagaimana Forestra dapat menjadi acara yang lebih baik dan punya napas lebih panjang pun terjadi di tengah tim POT. “Akhirnya, tahun lalu POT diajak melanjutkan diskusi untuk menjadikan Forestra sebagai I.P dan dirancang dengan branding yang bisa membawa napas panjang bersama Suasana Scenery,” cerita Bayu.
Forestra merupakan proyek event branding pertama bagi POT Branding House. Kesempatan ini menjadi ruang belajar dan eksplorasi yang menantang, terutama dalam meresonansikan pemikiran Jay Subiakto dan Erwin Gutawa, dua tokoh penting di balik acara musik Forestra. Setelah perjalanan panjang, kolaborasi satu frekuensi antar POT Branding House dan Forestra pun berlanjut hingga Forestra 2024 yang akan digelar pada 31 Agustus mendatang. Berbekal evaluasi, kritik, dan pengalaman pada acara tahun lalu, POT Branding House mengubah sudut pandang Forestra dari yang berlandasan pada kemegahan dan kesederhanaan alam ke pengangkatan orkestra itu sendiri dan para pemainnya yang menjadi alasan utama di balik pengalaman berharga saat menyaksikan konser tersebut.
Proses perancangan gagasan dalam pembuatan identitas visual Forestra dimulai dari pencarian bentuk harmoni yang menghubungkan manusia dengan alam melalui dinamika gerak yang berwujud musik. Gerak progresif sebagai kiasan dari musik menjadi landasan utama yang digunakan oleh POT Branding House untuk menyampaikan ekspresi visual Forestra. Lebih lanjut, Bayu menjelaskan bahwa bentuk transformatif ini juga merangkum perjalanan Forestra bersama POT Branding House dari tahun ke tahun. Pada Forestra ‘23, konsep "Simfoni Alam Raya" diperkenalkan sebagai ekspresi perayaan hidup dan makna yang dituangkan dalam eksplorasi elemen visual dan tata letak. Sementara pada Forestra ‘24, emphasis lebih diberikan pada bentuk kemegahan orkestra yang menjadi ungkapan rasa syukur atas ruang yang disediakan oleh alam. Konsep ini dikemas dalam tema "Simfoni Gema Rasa." Gagasan ini kemudian dikomunikasikan secara ekspansif melalui perpaduan warna dan bentuk figuratif dengan pendekatan abstract-formalist. Meskipun ada eksplorasi baru, tim POT Branding House tetap mempertahankan warna utama dan tekstur yang telah menjadi ciri khas dari identitas Forestra sebelumnya.
Jika diperhatikan, salah satu hal yang menonjol dari identitas visual Forestra adalah penggunaan elemen-elemen natural seperti tekstur batang pohon. Bayu menegaskan bahwa elemen ini tidak hanya hadir sebagai hiasan, tetapi merupakan bagian integral dari identitas visual yang mencerminkan hubungan erat antara musik orkestra dan alam raya. “Satu hal yang terpaut di antaranya adalah pola sirkularnya. Nada berulang menghasilkan sebuah irama dengan tekstur instrumennya, merespons dari gerak konduktor yang sirkular mensimfonisasi para musisi, lalu alam yang sirkular dengan musimnya, batang pohon yang sirkular berdasarkan umurnya, kedua ini menciptakan keindahan organik tersendiri yang menjadi anchor dari identitas visual Forestra,” jelas Bayu. Layaknya musisi orkestra yang merespons ragam musik yang disajikan, POT Branding House juga merespons suara, musik, dan teksturnya dengan mendengarkan dan kemudian menggerakkan tangan sesuai dengan vibrasi serta rasa yang diterima. Dari situlah lahir ragam grafis sirkular dengan tekstur berbeda-beda—mencerminkan keanekaragaman musik yang ditawarkan oleh Forestra. “Prinsipnya kami menaruh diri dengan empati, merasakan cara merespons sebagai musisi orkestra, juga dengan garis-garis tangan organik seperti gerak alam,” imbuh Bayu.
Forestra seringkali dipersepsikan sebagai sebuah festival musik, namun menurut penjelasan Bayu, Forestra sebenarnya lebih tepat disebut sebagai konser musik orkestra. Perbedaan antara konser dan festival ini terletak pada pengalaman yang disajikan. Konser memiliki alur pengalaman yang jelas dengan pembuka, penutup, dan bagian-bagian di antaranya yang terstruktur, sementara festival lebih bersifat bebas namun tetap terkonsep. “Ini juga catatan yang disampaikan oleh Mas Jay Subiakto dan Mas Erwin Gutawa,” kata Bayu.
Dalam menerjemahkan pengalaman sebuah konser musik orkestra ke dalam identitas visual, hal terpenting dan juga menantang bagi tim POT Branding House adalah proses immersive research. Proses ini mendorong tim POT untuk memahami secara mendalam berbagai sudut pandang dari para aktor yang terlibat, mulai dari musisi di atas panggung hingga tim di belakang panggung. Aspek penting lain adalah bagaimana mempertahankan sensibilitas terhadap musik dan nuansanya—penting bagi desainer untuk bisa membedakan dan menemukan titik temu dari ragam frekuensi musik yang ada. “Sensibilitas untuk bisa mengartikulasikan rasa, suara, dan tekstur,” tutur Bayu. Masih berbicara soal tantangan, Bayu menjelaskan bahwa orkestra sendiri merupakan budaya yang berasal dari Barat, sehingga ada jalan berliku tersendiri untuk membuatnya terasa dekat dan relevan dengan budaya Timur, khususnya di Indonesia. Selain itu, material dan implementasi identitas visual saat acara berlangsung menjadi hal yang juga menantang bagi tim POT. Konsep yang matang harus bisa diartikulasikan dengan baik, meskipun seringkali ada keterbatasan waktu, teknik, dan budget dari produksi itu sendiri. Oleh karena itu, menemukan titik tengah antara konsep dan realita lapangan menjadi salah satu aspek krusial bagi tim POT.
Kolaborasi antara POT Branding House dan Forestra adalah bukti nyata bahwa bagaimana branding dapat memberikan napas pada sebuah acara, begitu juga sebaliknya—bagaimana nyawa dari acara menjadi pemantik dalam proses perancangan gagasan hingga visual. Dalam desain identitas visual Forestra, POT Branding House tidak hanya mencerminkan esensi konser musik ini, namun juga memberikan nilai tambah pengalaman visual bagi penonton. Dengan mmpertemukan elemen natural, harmoni suara, dan gerak tubuh manusia, POT ikut merayakan keterikatan kita dengan alam bersama Forestra.