Menuju Jakarta 500: Tangan Terbuka untuk Jakarta yang Baru
Pada ulang tahunnya yang ke-499, kota Jakarta menatap usianya yang hampir 5 abad dengan penuh optimisme. Untuk menyambut peristiwa besar tersebut, Gubernur dan Pemprov Jakarta bekerjasama dengan Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (ADGI) menyelenggarakan Sayembara logo HUT 500 Jakarta. Sepuluh kandidat terpilih, masing-masing mendapat brief dan waktu dua minggu untuk merancang. Presentasi dilakukan langsung di hadapan staf Pemprov Jakarta dan dewan juri dari ADGI serta perwakilan Ekraf.
Angka 500 membawa beban sejarah, tata kota, transformasi ekonomi, dan ragam pertemuan budaya yang membentuk kota Jakarta hingga hari ini. Pada 10 Maret 2026, Gubernur Provinsi Jakarta, Pramono Anung mengumumkan satu desain terpilih dari sepuluh kandidat yang sudah berkompetisi sebelumnya. Desain dari Suka Studio akhirnya terpilih sebagai logo resmi HUT 500 Jakarta. Ketika Suka Studio mulai menggali apa yang sebenarnya diinginkan warga Jakarta, mereka mendapati temuan yang menarik.
"Warga Jakarta memaknai perayaan 5 Abad Jakarta bukan lagi soal sejarah, nostalgia dan monumen-monumen penting, tapi bagaimana momentum ini bisa menjadi refleksi dan titik awal Jakarta menuju masa depan," kata Faddy Ravydera, dari Suka Studio. Dari situ, arah logonya mulai terbentuk.
Suka Studio memulai prosesnya dari riset. Mereka melakukan desk research dari berbagai artikel, lalu menyebarkan survei digital ke sekitar 260 warga yang beraktivitas sehari-hari di Jakarta: baik mereka yang berdomisili di sana, maupun mereka yang tinggal di luar Jakarta, seperti pekerja komuter dan ekspatriat.
"Kami melihat logo 5 Abad Jakarta ini adalah suara dari semua yang hidup dari kota ini. Mereka semua bagian dari perkembangan kota Jakarta, merekalah yang membentuk Jakarta hingga hari ini, dan mereka ingin berkontribusi. Jadi mereka juga harus bisa menjadi bagian dari logo ini," jelas Faddy.
Dari ratusan respons survei itu, satu pola muncul dengan cukup konsisten: warga Jakarta ingin perayaan ini menjadi titik awal, bukan sekadar peringatan tahunan. Mereka bicara soal harapan, aspirasi, dan keinginan untuk melihat Jakarta berkembang sebagai Kota Global dan Berbudaya.
Bagaimana memvisualisasikan semua itu dalam satu bentuk yang mudah diingat dan bermakna universal? Tantangannya kemudian menjadi sangat teknis sekaligus konseptual. Dari beragam alternatif ide, mereka akhirnya memilih sebuah desain siluet tangan terbuka dengan lima jari. Angka 5 yang merepresentasikan lima abad sekaligus gestur yang paling manusiawi untuk menyampaikan sapaan dan harapan.
"Tantangan terbesar adalah bagaimana kita menciptakan sebuah singular symbol yang bermakna universal, untuk bisa menceritakan seluruh cerita, aspirasi dan harapan warga Jakarta," kata Faddy. "Kami melakukan banyak tahapan sketching dengan berbagai macam approach, hingga akhirnya mengerucut menjadi satu pendekatan desain."
Bentuk finalnya tidak datang sekaligus. Logo ini melewati berbagai iterasi, didiskusikan secara bertahap bersama dewan juri di setiap checkpoint sampai ke versi yang sekarang bisa dilihat publik. Warna-warna di dalam siluet tangan itu mewakili keberagaman warga Jakarta yang datang dari berbagai latar belakang.
Ketika sebuah instansi pemerintah memilih untuk melibatkan asosiasi profesi dan memberi ruang bagi proses riset yang cukup dalam, artinya ada kesadaran yang mulai tumbuh mengenai peran penting desain grafis dalam membangun identitas sebuah kota. Faddy sendiri melihat ini sebagai sinyal positif.
"Kesadaran akan pentingnya grafis/identitas visual yang baik dan tepat untuk berbagai kebutuhan pemerintah/instansi akan menjadi contoh bagi para pelaku usaha swasta ataupun masyarakat umum juga. Ini menjadi salah satu bentuk edukasi dari pemerintah kepada semua pihak dalam menjaga pentingnya peran desain grafis dan industri kreatif lainnya," katanya.
Logo sebuah perayaan biasanya punya umur yang pendek. Ia muncul di spanduk, di undangan resmi, di media sosial selama beberapa bulan, lalu pelan-pelan menghilang. Tapi Faddy menyimpan harapan yang lebih jauh dari itu.