Unserious Series 1, Food for Tought: Ketika Seni dan Pangan Beresonansi


Pameran seni biasanya hadir dengan teks kuratorial yang berat dan berjarak. Pertanyaannya, bagaimana pamera seni bisa menjembatani karya dan penontonnya dengan cara yang sederhana? Unserious Series #1: Food for Thought di D’Gallerie, Jakarta, memilih cara yang berbeda dalam meretas kesan kaku dalam pameran melalui sebuah alegori yang universal: Pangan. 

Berlangsung dari 7 Maret hingga 18 April 2026, pameran ini adalah program perdana D Gallerie di tahun ini sekaligus edisi pembuka dari sebuah seri pameran baru yang diberi nama Unserious Series. Yang menarik, karya-karya yang dipamerkan datang dari seleksi terbuka, artinya akan banyak karya-karya segar dari nama-nama baru di kancah seni rupa kedepannya.

Tema yang dipilih untuk edisi pertama adalah makanan. Tetapi di sini makanan bukan sebagai objek estetik atau nostalgia, melainkan makanan sebagai cara berpikir. Kurator Wina Luthfiyya menyusun pameran ini dengan premis yang cukup konkret: proses di balik sebuah hidangan kerap luput dari perhatian karena yang hadir di meja adalah hasil akhirnya saja. Hal yang sama, menurutnya, terjadi dalam seni rupa.

"Sebagaimana makanan melalui proses persiapan sebelum tiba di meja, karya seni melewati proses transformasi dan penilaian sebelum dapat dilihat. Pameran ini mengajak kita untuk merefleksikan apa yang kita cerna secara visual dan kultural," kata Wina.

Dari premis itulah struktur pameran terbentuk: enam bagian yang disusun seperti menu lengkap. Ingredient, Appetizer, Main Course, Dessert, Plating, dan Aftertaste. Setiap bagian menelusuri satu tahap transformasi artistik, mulai dari soal material dan proses, melewati pertanyaan tentang konsumsi, kelas, dan ekonomi seni, sampai ke penyajian dan apa yang tertinggal setelah semua selesai.


Pembagian ini bukan sekadar permainan istilah kuliner. Dalam teks kuratorial, Wina menjelaskan bahwa Food for Thought bekerja pada dua ranah sekaligus: membaca praktik seni sebagai proses transformasi dari bahan menjadi bentuk, dan menempatkan konsumsi sebagai lensa untuk melihat bagaimana makna dan nilai diproduksi serta diterima.

Pameran ini menampilkan 40 seniman, sebuah angka yang cukup besar untuk satu ruang galeri. Nama-nama yang sudah mapan dan yang lebih baru terasa seperti bagian dari niat kuratorial itu sendiri yaitu mempertemukan suara-suara berbeda dalam satu percakapan. Di antaranya adalah: Ade Ardhana, Ainur Kaheqsi, Alexandra Tuit, Alodia Yap, Amran Rizky, Aphrodita Wibowo,Diandra Lamees, Dimas Hussein Habibullah, Era Premakara, Eunice Nuh Tantero, FriskiJayantoro, Gitta Amelia, Ho Bin Kim, Ibob Hariyatmoko, I Gede Sukarya, I Gusti Ngurah Agung Dalem Diatmika, Ipang Cahyo, Jayanto Tan, Josh Gondo, Kevin Ple Aditya, Leka Putra, Mahendra Pam Pam, Mandy CJ, Michelle Sutanto, Miranda, Morris Hork, Mulyana (Mangmoel), Mukhammad Syaifullah, Nadhief Ashr, Naufal Abshar, Ricky Wahyudi, Sifa Adni Qolby, Sillyndris, Suyatno, Syagini Ratna Wulan, Veronica Liana, Widi Wardani Purnama, WISMA, Yosua Reydo Respati, dan Youngsook Park.

D’Gallerie sendiri sudah berdiri sejak 2001 dan melewati tiga generasi kepemimpinan. Sejak 2006, galeri ini mulai bergeser ke praktik seni kontemporer, lalu perlahan memperluas ruangnya untuk medium-medium yang lebih eksperimental dan seniman-seniman yang lebih muda. Unserious Series adalah bagian dari semangat itu, sebuah platform tahunan yang terbuka dalam format maupun nada, di mana karya bisa ringan, personal, mengejutkan, atau diam-diam serius.

Nama "Unserious" itu sendiri terasa seperti pernyataan sikap. Ada keyakinan di baliknya bahwa seni kontemporer seharusnya terasa dekat, dan bahwa keterbukaan terhadap penonton adalah nilai yang layak dijaga.

Unserious Series #1: Food for Thought masih bisa disaksikan hingga 18 April 2026 di D Gallerie, Jl. Barito I No. 3, Jakarta Selatan.

web-19
web-20
web-21
web-22
web-23
web-24
About the Author

Dhanurendra Pandji

Dhanurendra Pandji is an artist and art laborer based in Jakarta. He spends his free time doing photography, exploring historical contents on YouTube, and looking for odd objects at flea markets.