Setanah, Tak Pernah Diam: Upaya Membaca Ruang dan Mitigasi Bencana


Di ruang pertama Bale Paragon, sebuah layar menampilkan Gunung Tangkuban Perahu dari kejauhan. Gunung itu sedang meletus. Tak lama kemudian banjir lahar berwarna hitam datang dan mengalir melalui jalur sungai. Animasi simulasi ini berjudul Membaca Tanah yang Bergerak, garapan Arafura & Exposed Project Team. Di perangkat layar sentuh di dekatnya, pengunjung bisa memilih simulasi lain, yaitu suasana gempa bumi dengan latar permukiman.

Karya itu menjadi pembuka pameran Setanah, Tak Pernah Diam, yang berlangsung di Bale Paragon, Selasar Sunaryo Art Space, Bandung, sejak 29 Agustus hingga 31 Oktober 2026. Pameran publik ini membahas bagaimana masyarakat memahami dan hidup berdampingan dengan lanskap geologis yang terus bergerak. Angka yang dicantumkan penyelenggara cukup menjelaskan alasannya. Menurut pemantauan jangka panjang BMKG dari 2009 sampai 2023, Indonesia mengalami rata-rata 7.524 gempa bumi per tahun, termasuk aktivitas Sesar Lembang di Bandung.

Pameran ini juga menjadi ruang diseminasi hasil penelitian Seismic Synergy: Learning from Traditional Wisdom to Build a Resilient Future, proyek riset internasional yang didukung Toyota Foundation. Penelitinya datang dari ITB, The University of Tokyo, Kyoto University, NED University of Engineering and Technology di Pakistan, Pinion, dan Institute of Himalayan Risk Reduction di Nepal. Sejumlah mitra, seperti BRIN, BGS, dan RDI, ikut terlibat. Pameran ini turut melibatkan Prasanti Widyasih Sarli (peneliti teknik sipil dan lingkungan di bidang resiliensi dan risiko lingkungan) sebagai ketua pameran. Prananda L. Malasan (peneliti-kurator yang menelusuri budaya, lingkungan) dan praktik keseharian sebagai ketua kuratorial, dan Nuraini Rahma H. (ilmuwan kebumian BRIN dengan spesialisasi risiko geohazard dan resiliensi) sebagai ketua riset.

Lewat dialog antara pengetahuan tradisional dan perspektif ilmiah kontemporer, proyek ini mengajak publik memaknai ulang bencana sebagai bagian dari interaksi panjang antara manusia dan lingkungan yang dinamis, tidak sebagai kejadian mendadak yang berdiri sendiri.

Tema kuratorialnya adalah "Ikatan yang Hilang", yaitu refleksi atas melemahnya hubungan antara manusia, material, praktik pembangunan, dan pengetahuan kebencanaan. Aspek historis, teknologi, etnografi, dan atmosferik dihadirkan sebagai bagian dari proses edukasi. Sains kebencanaan, seni, dan pengalaman warga dipadukan untuk menerjemahkan risiko geologi di Kawasan Metropolitan Bandung, termasuk ancaman Sesar Lembang dan gunung api aktif di sekitarnya. Penyelenggara menyebut tiga prinsip rancangan. Pameran ini dirancang untuk anak-anak hingga dewasa dari berbagai komunitas dan latar belakang. Selain itu, pameran ini juga dibangun dengan pengalaman interaktif, sehingga pengunjung diajak menjelajah, menyentuh, dan berpartisipasi langsung. Upayanya adalah membumikan persoalan yang berakar pada tanah, lanskap, patahan, dan gunung berapi.


Isinya disusun dalam beberapa zona. Zona pertama memperkenalkan Bumi sebagai sistem yang dinamis, dibentuk oleh pergerakan patahan, aktivitas vulkanik, dan gaya tektonik. Lewat peta, model, dan visualisasi ilmiah, pengunjung diajak memahami bagaimana lanskap terbentuk dan membentuk lingkungan tempat komunitas hidup. Zona kedua menelusuri cara komunitas beradaptasi dengan lanskap yang berubah. Rumah tradisional, pola permukiman, dan praktik budaya dipajang berdampingan dengan pendekatan desain kontemporer, memperlihatkan dialog yang masih berlangsung antara pengetahuan yang diwariskan dan strategi ketahanan masa kini. Zona penutup mengajak pengunjung merenungkan kemungkinan masa depan lewat instalasi artistik dan pengalaman interaktif, tentang bagaimana masyarakat dapat terus hidup bersama ketidakpastian dan perubahan.

Di ruang tengah, dipajang karya seni, budaya, serta teknik tradisional dan modern yang berkaitan dengan mitigasi letusan dan gempa bumi. Salah satunya Meja Operasi Dinding, tentang cara membangun rumah tahan gempa. Dinding diperkuat tanpa dibongkar, melalui metode retrofitting. Bahan yang dipakai cukup sederhana, yaitu pasir, semen, air, dan kawat kandang ayam, untuk menahan beban gempa.

Ruang belakang memuat beberapa karya, antara lain Merajut Jaring Keselamatan. Instalasi interaktif ini mengajak pengunjung menimbang prioritas hatinya sendiri dengan satu pertanyaan, yaitu siapa yang pertama ingin diselamatkan saat bencana datang. Nama-nama lain bisa ditulis dengan spidol merah, lalu dihubungkan dengan benang merah. Jaring benang itu melambangkan cinta dan pengaman kasih sayang. Di rak pada sudut ruangan tersedia hasil penelitian kolaboratif tentang gempa, sehingga data dan pengalaman pribadi berada di ruang yang sama.

Bagi warga Bandung yang hidup dekat Sesar Lembang, persoalan yang dihadirkan dalam pameran ini sangat relevan dan dekat dengan keseharian. 

Sumber informasi: materi pameran Setanah, Tak Pernah Diam*; data gempa bumi dikutip penyelenggara dari BMKG (2009–2023).*

web-14
web-15
web-12
web-13
web-17
web-16
About the Author

Dhanurendra Pandji

Dhanurendra Pandji is an artist and art laborer based in Jakarta. He spends his free time doing photography, exploring historical contents on YouTube, and looking for odd objects at flea markets.