Ketika “Lagipula Hidup akan Berakhir” dari Hindia Menjadi Arsip yang Bisa Kita Simpan

Di tengah dominasi platform streaming digital, rilisan fisik dalam industri musik justru menemukan ruang baru dalam keseharian para penggemar. Rilisan fisik, sebagai objek yang dapat dimiliki sepenuhnya dan dikoleksi, kini menjadi bagian dari pengalaman penggemar dalam mengenal dan menikmati karya seorang musisi. Dalam konteks ini, box set hadir sebagai salah satu format rilisan yang utuh, memperluas album menjadi paket pengalaman melalui desain, memorabilia, hingga benda-benda eksklusif layaknya “harta karun” bagi para penggemar. Pengalaman itulah yang ditawarkan oleh Hindia lewat box set vinil Lagipula Hidup akan Berakhir.

Tiga tahun setelah album tersebut pertama kali dirilis secara digital dan dalam format CD, album ini kembali hadir dalam bentuk box set vinil yang diproduksi oleh 1024. Rilisan ini dirancang untuk membawa kembali dunia visual dan narasi Lagipula Hidup akan Berakhir menjadi satu kesatuan. Box set tersebut berisi tiga plat vinil berwarna biru dan hitam dengan motif berbeda, buklet dengan desain baru dan foto-foto karya Meidiana Tahir dari sesi pemotretan album pada 2023, surat dari Hindia dengan stempel dan tanda tangan asli, empat photo card, satu graded collector’s card, gantungan kunci berbahan karet, serta berbagai stiker khusus.

Bagi Hindia, keinginan untuk menghadirkan box set seperti ini sebenarnya sudah lama ada, dan ada pun dorongan untuk memberikan ruang yang lebih luas untuk menceritakan kembali albumnya. “Impian saya sejak lama adalah memiliki box set secanggih dan selengkap rilisan eksklusif milik musisi-musisi internasional yang saya gemari sejak kecil,” ujar Baskara Putra, nama di balik proyek Hindia.

zoom

Dalam perancangan box set vinil ini, visual storytelling juga memainkan peran yang lebih besar daripada sekadar “membungkus” musik. Pramedya Nataprawira, Creative Director 1024, melihat vinil sebagai medium yang memiliki ruang eksplorasi besar. Dengan merujuk kembali pada world-building Lagipula Hidup akan Berakhir, tim 1024 menerjemahkan dunia album tersebut ke dalam berbagai materi yang dapat ditemukan di dalam box set. Pendekatan ini memperlihatkan bagaimana rilisan musik fisik semakin dekat dengan praktik collectible design. Setiap komponen berkontribusi terhadap narasi yang lebih besar. Collector’s card dan memorabilia, misalnya, dengan jumlah terbatas, menciptakan nilai eksklusivitas dan kepemilikan yang personal. Bahkan pilihan warna dan motif pada masing-masing vinil menjadi bagian dari identitas visual keseluruhan rilisan.

Keputusan untuk merilis box set ini tiga tahun setelah album pertama kali beredar juga berkaitan dengan perubahan konteks personal di balik Lagipula Hidup akan Berakhir. Menurut Pramedya, ketika album tersebut pertama kali dirilis, Baskara berada dalam kondisi kesehatan mental yang cukup rendah. Tiga tahun kemudian, ketika kondisinya telah membaik, album yang sebelumnya menjadi catatan dari masa yang sulit dapat kembali dibuka sebagai bagian dari sejarahnya tanpa memicu trauma. Bersama Art Director 1024, Gumilang Damar Budiman, pengalaman tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam visual storytelling box set ini. Dengan begitu, rilisan fisik benar-benar memiliki kekuatan dalam memosisikan kembali sebuah karya dalam perjalanan waktu dan album berkembang menjadi arsip perjalanan Hindia tersendiri.

Terkait konsep artistik dari desain box set ini, Pramedya Nataprawira menjelaskan lebih lanjut: “Fokus utama deluxe box set ini bertumpu pada eksplorasi tekstur fisik yang menuntut sentuhan tangan. Hubungan visualnya kami tarik langsung dari sampul album aslinya karya Ramzi Firhad. Jika versi 2023 menghadirkan lukisan gua yang ramai dengan warna dan figur-figur melayang, versi monumen ini memperlihatkan ruang yang sama saat semuanya telah tiada.”

Lebih detail, bagian luar box set ini menggunakan warna deep cobalt blue secara monokromatik, sementara elemen seperti dinding gua, siluet malaikat, dan judul album diterjemahkan melalui teknik blind emboss/deboss tanpa tambahan tinta warna, menciptakan kesan seperti bongkahan batu monolit yang padat. Di dalamnya terdapat tiga piringan hitam dengan karakter visual berbeda: blue with black splatter, blue & black smoke, dan solid blue, dengan ikon senyum dan murung pada label yang merepresentasikan dinamika emosi di setiap sisinya. Untuk mempertahankan dunia visual album, 1024 juga kembali menggandeng Ramzi Firhad untuk membuat ilustrasi baru yang digunakan pada inner sleeve ketiga piringan tersebut.

Gumilang Damar Budiman menambahkan: “Keputusan desain paling berani yang kami ambil ada pada kemasan tiga cover piringan hitam di dalam box. Setiap piringan dibungkus dalam single jacket dengan mekanisme perforasi yang harus disobek agar piringannya bisa dikeluarkan.”

Keputusan tersebut menjadi bagian dari narasi Lagipula Hidup akan Berakhir: untuk menikmati musiknya, kita harus rela merusak kemasannya, sejalan dengan gagasan bahwa sesuatu perlu dikorbankan untuk mendapatkan sesuatu yang lain. Di sisi lain, mekanisme tersebut juga menjadi respons terhadap budaya reseller yang kerap mempertahankan piringan hitam dalam kondisi sempurna sebagai objek spekulasi tanpa benar-benar mendengarkannya. Dengan demikian, pemilik dihadapkan pada pilihan untuk mempertahankan rilisan sebagai benda yang tersegel atau membuka dan menggunakannya, membiarkan objek fisiknya menua seiring waktu.

“Bagi kami, rilisan ini akhirnya berdiri bukan lagi sebagai produk komersial biasa, melainkan peninggalan fisik dari sebuah era yang telah pudar warnanya, namun tetap tertinggal bekasnya,” kata Gumilang Damar Budiman.

Langkah seperti ini memperlihatkan perubahan cara industri musik memandang rilisan fisik saat ini. Ketika akses terhadap musik menjadi semakin mudah dan nyaris tanpa batas, nilai sebuah rilisan fisik justru bergeser pada apa yang tidak bisa diberikan oleh streaming: arsip, kelangkaan, detail, dan rasa memiliki. 

Maka itu, untuk Lagipula Hidup akan Berakhir, 1024 dan Hindia membatasi box set ini hanya dalam 500 kopi dengan harga Rp3.499.000, belum termasuk ongkos kirim dan biaya lainnya. Pesanan dibuka sejak 27 Agustus lalu melalui singdanceandyou.com, selama persediaan masih ada. Penting untuk diketahui, sebagian keuntungan dari setiap penjualan box set akan disumbangkan melalui Kitabisa untuk korban kebakaran hutan dan lahan di berbagai wilayah di Indonesia, serta pemulihan di Nusa Tenggara Timur pascabencana gempa bumi. Setelah proses pemesanan selesai, Hindia dan tim berencana mempublikasikan laporan keuangan donasi secara lengkap dan transparan.

web-22
web-23
web-24
web-25
web-27
web-28
web-29
About the Author

Alessandra Langit

Alessandra Langit is a writer with diverse media experience. She loves exploring the quirks of girlhood through her visual art and reposting Kafka’s diary entries at night.